Senin, 02 Juli 2018

UAS Sastra Indonesia



Seperti Bermimpi
Minggu sore, Ririn menagih janji untuk kesekian kali pada ayah. Sebab ayah telah berjanji  akan membelikan sepeda baru.
“Yah kapan Ririn dibelikan sepeda baru ?”
“Sabar Rin, toko bangunan ayah lagi sepi”
“Tapi ayahkan sudah janji”
Ayah sedang membaca koran diam saja. Tanpa sepatah katapun, Ririn pergi kekamar dan menutup pintu dengan keras. Tak lama kemudian, bunda yang sedang memasak mendengar suaraku menangis. Bunda segera berlari kekamarku.
“Rin ada apa ko menangis ?”
“Ririn tidak di belikan sepatu oleh ayah” jawabku dengan nada terputus-putus
“Sabar yah, toko kita lagi sepi. Nanti kalo ayah punya uang pasti dibelikan” bunda berusaha menghiburku.
Keesokan harinya Ririn berangkat sekolah dengan sepeda lama yang sudah butut. Sampai disekolah Ririn bertemu dengan temannya yang bernama Adel.
“Hai, Rin sapa Adel”
“Hai..” balas menyapa Adel
“Rin ko kamu belum dibelikan sepeda baru?”
“Belum soalnya ayah belum punya uang”
“Ohhh sabar yah, adel juga turut menghibur”
Pulang sekolah aku terkejut bukan main. Ada sebuah sepeda baru di ruang tamu ...
“Bunda... bundaa”
“Ada apa sih rin ko teriak-teriak?”
“Bunda ini sepeda untuk ririn ?”
“Iyah, tadi ayah baru saja membelikanmu “
“Ye.. yee teriak Ririn kegirangan”
Ayahpun keluar dari ruang kerjanya.
“Ayah terimakasih yah” ucap Ririn dengan bahagia
“Iyah, kamu harus belajar lebih giat lagi yah ?” pesan ayah
Ririnpun semakin rajin beribadah dan berdoa, semoga toko bangunan yang dikelola ayah semakin ramai pembeli. Pagi yang cerah, rirn berangkat kesekolah dengan sepeda barunya.
“Ayah,Bunda Ririn berangkat sekolah dulu yah”.
“Iyah hati-hari Rin... “ pesan ayah dan bunda hampir bersamaan
Sampaik ketempat sekolah. Ririn memakirkan sepeda barunya ditempat parkir. Kemudian ia berlari pergi ke kelas.
“Rin.. Rinn” sapa adel
“Iyah ada apa sih Del, ko teriak-teriak?”
“Ehh, kamu udah dibelikan sepeda baru ya?”
“Iyah, kamu tahu dari mana ?”
“Tadi aku bertemu ayahmu di jalan, dia cerita tentang sepeda barumu, asyikkk dong...”
“Oh...”
....
Pulang sekolah Ririn terkejut bukan main. Sepda barunya tidak ada ditempat parkir.
“Loh ko sepedaku ga ada sih ?” tiba-tiba iya teringat tadi lupa mengunci sepedanya. Kontan ia menangis, sadar sepedanya telah dicuri orang”
Adel keheranan melihat Ririn menangis
“Rin ada apa, ko menangis?”
“Sepeda baruku hilang”
“Wah.. tadi kamu lupa kunci atau tidak?”
“Aku lupa menguncinya” jawab Ririn sambil menangis sesegukan
“Ya kamu kurang hati-hati sih. Terus gimana nih, pencuri itu pasti sudah lari jauh. Yu aku antar pulang, biar orang tuamu nanti yang lapor polisi” ujar Adel berusaha menenangkan.
Sampai dirumah, Bunda terkejut melihat Ririn pulang debonceng Adel.
“Ada apa ? Sepada barumu mana Ein ? tanya bunda tampak penasaran
“Ini tante Ririn kehilangan sepedanya ditempat parkir sekolah” jawab Adel
“Lohhh, ko bisa sih ? sepeda baru itukan mahal harganya”
“Maaf Bunda, tadi Ririn lupa menguncinya” jawab Ririn sambil menangis
“Kamutuh gimana sih Rin, tiap hari merengek-rengek minta dibelikan sepda baru. Sudah dibelikan ehh kamu malah tidak bisa menjaganya”
Ririn semakin sedih dan bingun menghadapi peristiwan ini. Rasanya seperti bermimpi, punya sepeda baru telah hilang dalam sekejap. Namun ia berjanji dalam hati kejadian ini akan menjadi pengalaman paling berharga dalam hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar