Adapun pengertian pendidikan karakter
menurut para ahli :
individu dalam mennghayati nilai-nilai
yang dianggap sebagai baik, luhur, dan layak diperjuangkan sebagai pedoman
bertingkah laku bagi kehidupan pribadi berhadapan dengan dirinya, sesame dan
Tuhan.
Menurut Khan pendidikan karakter adalah
proses kegiatan yang dilakukan dengan segala daya dan upaya secara sadar dan
terencana untuk mengarahkan anak didik. Pendidikan karakter juga merupakan
proses kegiatan yang mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan dan
pengembangan budi harmoni yang selalu mengajarkan, membimbing, dan membina
setiap menusia untuk memiliki kompetensi intelektual, karakter, dan keterampilan
menarik.Nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat dihayati dalam penelitian
ini adalah
religius, nasionalis, cerdas, tanggung
jawab, disiplin, mandiri, jujur, dan arif, hormat dan santun, dermawan, suka
menolong, gotong-royong, percaya diri, kerja keras, tangguh, kreatif,
kepemimpinan, demokratis, rendah hati, toleransi, solidaritas dan peduli.
Dari
beberapa pengertian di atas, dapatlah diambil suatu garis besar bahwa
Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik
mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik
berperilaku sebagai insan kamil, dimana tujuan pendidikan karakter adalah
meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah melalui
pembentukan karakter peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Pendidikan
karakter adalah proses menanamkan karakter tertentu sekaligus memberi benih
agar peserta didik mampu menumbuhkan karakter khasnya pada saat menjalankan
kehidupan. Dengan kata lain, peserta didik tidak hanya memahami pendidikan
sebagai bentuk pengetahuan, namun juga menjadikan sebagai bagian dari hidup dan
secara
sadar hidup berdasarkan pada nilai
tersebut.
B. Penerapa pendidikan Karakter di Sekolah
Dasar
Penerapan pendidikan karakter di sekolah
dasar dilakukan pada ranah pembelajaran (kegiatan pembelajaran), pengembangan
budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar, kegiatan ko-kurikuler dan atau
kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan keseharian di rumah dan di masyarakat.
Adapun penjelasan masing-masing ranah tersebut adalah sebagai berikut.
1. Kegiatan pembelajaranPenerapan pendidikan
karakter pada pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan strategi
yang tepat. Strategi yang tepat adalah strategi yang menggunakan pendekatan
kontekstual. Alasan penggunaan strategi kontekstual adalah bahwa strategi
tersebut dapat mengajak siswa menghubungkan atau mengaitkan materi yang
dipelajari dengan dunia nyata. Dengan dapat mengajak menghubungkan materi yang
dipelajari dengan dunia nyata, berati siswa diharapkan dapat mencari hubungan
antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan pengetahuan tersebut dalam
kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan itu, siswa lebih memiliki hasil yang
komprehensif tidak hanya pada tataran kognitif (olah pikir), tetapi pada
tataran afektif (olah hati, rasa, dan karsa), serta psikomotor (olah raga)
Adapun beberapa strategi pembelajaran
kontekstual antara lain pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran kooperatif,
pembelajaran berbasis proyek,
pembelajaran pelayanan, dan pembelajaran berbasis kerja.
2. Pengembangan
Budaya Sekolah dan Pusat Kegiatan BelajarPengembangan budaya sekolah dan pusat
kegiatan belajar dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri, yaitu kegiatan
rutin, kegiatan spontan, keteladanan, dan, pengkondisian. Adapun hal-hal
tersebut adalah sebagai berikut.
a. Kegiatan
rutin
kegiatan rutin merupakan kegiatan yang
rutin atau ajeg dilakukan setiap saat. Kegiatan rutin dapat juga berarti
kegiatan yang dilakukan siswa secara terus menerus dan konsisten setiap saat . Beberapa contoh
kegiatan rutin antara lain kegiatan upacara hari Senin, upacara besar
kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan, piket kelas, shalat berjamaah,
berbaris ketika masuk kelas, berdoa sebelum pelajaran dimulai dan diakhiri, dan
mengucapkan salam apabila bertemu guru, tenaga pendidik, dan teman.
b. Kegiatan
spontan
Kegiatan spontan dapat juga disebut
kegiatan insidental. Kegiatan ini dilakukan secara spontan tanpa perencanaan
terlebih dahulu. Contoh kegiatan ini adalah mengumpulkan sumbangan ketika ada
teman yang terkena musibah atau sumbangan untuk masyarakat ketika terjadi
bencana.
c. Keteladanan
Keteladanan merupakan sikap “menjadi
contoh”. Sikap menjadi contoh merupakan perilaku dan sikap guru dan tenaga
kependidikan dan siswa dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang
baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi siswa lain Contoh kegiatan ini
misalnya guru menjadi contoh pribadi yang bersih, rapi, ramah, dan supel.
d. Pengkondisian
Pengkondisian berkaitan dengan upaya sekolah untuk menata lingkungan
fisik maupun nonfisik demi terciptanya suasana mendukung terlaksananya
pendidikan karakter. Kegiatan menata lingkungan fisik misalnya adalah
mengkondisikan toilet yang bersih, tempat sampah, halaman yang hijau dengan
pepohonan, poster kata-kata bijak yang dipajang di lorong sekolah dan di dalam
kelas. Sedangkan pengkondisian lingkungan nonfisik misalnya mengelola konflik
antar guru supaya tidak menjurus kepada perpecahan, atau bahkan menghilangkan
konflik tersebut.
3. Kegiatan ko-kurikuler dan atau kegiatan ekstrakurikulerKegiatan
ko dan ekstra kurikuler merupakan kegiatan-kegiatan di luar kegiatan
pembelajaran. Meskipun di luar kegiatan pembelajaran, guru dapat juga
mengintegrasikannya dalam pembelajaran. Kegiatan-kegiatan ini sebenarnya sudah
mendukung pelaksanaan pendidikan karakter. Namun demikian tetap diperlukan
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang baik atau merevitalisasi
kegiatan-kegiatan ko dan ekstra kurikuler tersebut agar dapat melaksanakan
pendidikan karakter kepada siswa
4. Kegiatan keseharian di rumah dan di
masyarakatKegiatan ini merupakan kegiatan penunjang pendidikan karakter yang
ada di sekolah. rumah (keluarga) dan masyarakat
merupakan partner penting suksesnya pelaksanaan pendidikan karakter
di sekolah. Pelaksanaan pendidikan karakter sebaik apapun, kalau tidak didukung
oleh lingkungan keluarga dan masyarakat akan sia-sia. Dalam kegiatan ini,
sekolah dapat mengupayakan terciptanya keselarasan antara karakter yang
dikembangkan di sekolah dengan pembiasaan di rumah dan masyarakat.
C. Kesimpulan
Pendidikan karakter sangat penting
diterapkan demi mengembalikan karakter bangsa Indonesia yang sudah mulai
luntur. Dengan dilaksanakannya pendidikan karakter di sekolah dasar, diharapkan
dapat menjadi solusi atas masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat.
Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah dapat dilaksanakan pada ranah
pembelajaran (kegiatan pembelajaran), pengembangan budaya sekolah dan pusat
kegiatan belajar, kegiatan kurikuler atau kegiatan ekstrakurikuler, dan
kegiatan keseharian di rumah dan di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA




