Seperti
Bermimpi
Minggu sore, Ririn menagih janji untuk
kesekian kali pada ayah. Sebab ayah telah berjanji akan membelikan sepeda baru.
“Yah kapan Ririn
dibelikan sepeda baru ?”
“Sabar Rin,
toko bangunan ayah lagi sepi”
“Tapi
ayahkan sudah janji”
Ayah sedang membaca koran diam saja. Tanpa
sepatah katapun, Ririn pergi kekamar dan menutup pintu dengan keras. Tak lama
kemudian, bunda yang sedang memasak mendengar suaraku menangis. Bunda segera
berlari kekamarku.
“Rin ada apa
ko menangis ?”
“Ririn tidak
di belikan sepatu oleh ayah” jawabku dengan nada terputus-putus
“Sabar yah,
toko kita lagi sepi. Nanti kalo ayah punya uang pasti dibelikan” bunda berusaha
menghiburku.
Keesokan harinya Ririn berangkat sekolah
dengan sepeda lama yang sudah butut. Sampai disekolah Ririn bertemu dengan temannya
yang bernama Adel.
“Hai, Rin
sapa Adel”
“Hai..” balas
menyapa Adel
“Rin ko kamu
belum dibelikan sepeda baru?”
“Belum soalnya
ayah belum punya uang”
“Ohhh sabar
yah, adel juga turut menghibur”
Pulang
sekolah aku terkejut bukan main. Ada sebuah sepeda baru di ruang tamu ...
“Bunda...
bundaa”
“Ada apa sih
rin ko teriak-teriak?”
“Bunda ini
sepeda untuk ririn ?”
“Iyah, tadi
ayah baru saja membelikanmu “
“Ye.. yee
teriak Ririn kegirangan”
Ayahpun
keluar dari ruang kerjanya.
“Ayah
terimakasih yah” ucap Ririn dengan bahagia
“Iyah, kamu
harus belajar lebih giat lagi yah ?” pesan ayah
Ririnpun semakin rajin beribadah dan berdoa,
semoga toko bangunan yang dikelola ayah semakin ramai pembeli. Pagi yang cerah,
rirn berangkat kesekolah dengan sepeda barunya.
“Ayah,Bunda
Ririn berangkat sekolah dulu yah”.
“Iyah
hati-hari Rin... “ pesan ayah dan bunda hampir bersamaan
Sampaik ketempat sekolah. Ririn memakirkan
sepeda barunya ditempat parkir. Kemudian ia berlari pergi ke kelas.
“Rin.. Rinn”
sapa adel
“Iyah ada
apa sih Del, ko teriak-teriak?”
“Ehh, kamu
udah dibelikan sepeda baru ya?”
“Iyah, kamu
tahu dari mana ?”
“Tadi aku
bertemu ayahmu di jalan, dia cerita tentang sepeda barumu, asyikkk dong...”
“Oh...”
....
Pulang
sekolah Ririn terkejut bukan main. Sepda barunya tidak ada ditempat parkir.
“Loh ko
sepedaku ga ada sih ?” tiba-tiba iya teringat tadi lupa mengunci sepedanya.
Kontan ia menangis, sadar sepedanya telah dicuri orang”
Adel
keheranan melihat Ririn menangis
“Rin ada apa,
ko menangis?”
“Sepeda
baruku hilang”
“Wah.. tadi
kamu lupa kunci atau tidak?”
“Aku lupa
menguncinya” jawab Ririn sambil menangis sesegukan
“Ya kamu
kurang hati-hati sih. Terus gimana nih, pencuri itu pasti sudah lari jauh. Yu
aku antar pulang, biar orang tuamu nanti yang lapor polisi” ujar Adel berusaha
menenangkan.
Sampai
dirumah, Bunda terkejut melihat Ririn pulang debonceng Adel.
“Ada apa ?
Sepada barumu mana Ein ? tanya bunda tampak penasaran
“Ini tante
Ririn kehilangan sepedanya ditempat parkir sekolah” jawab Adel
“Lohhh, ko
bisa sih ? sepeda baru itukan mahal harganya”
“Maaf Bunda,
tadi Ririn lupa menguncinya” jawab Ririn sambil menangis
“Kamutuh
gimana sih Rin, tiap hari merengek-rengek minta dibelikan sepda baru. Sudah
dibelikan ehh kamu malah tidak bisa menjaganya”
Ririn
semakin sedih dan bingun menghadapi peristiwan ini. Rasanya seperti bermimpi,
punya sepeda baru telah hilang dalam sekejap. Namun ia berjanji dalam hati
kejadian ini akan menjadi pengalaman paling berharga dalam hidupnya.




